Gresik United In Future, Good Suggestion for You

Filsuf (atau, filosof) atau disebut juga ahli pikir ialah mereka yang gemar menilik sesuatu realitas dengan kemerdekaan berpikir yang ada padanya sampai sesuatu itu '"terbongkar" sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya. Apa yang dilakukan oleh para filsuf tetap kembali pada suatu usaha menemukan kebenaran, meskipun jalan, metode yang dipakai berbeda-beda antara satu filsuf dengan filsuf yang lain. Oleh karenanya, tak heran bila muncul istilah-istilah seperti "filsafat Plato", "filsafat Thomas", "filsafat Kant", "filsafat Habermas", dan seterusnya, di sampingnya "filsafat Yunani", "filsafat India", "filsafat eksistensialisme", dsb. Itu karena memang produk pemikiran masing-masing filsuf tersebut adalah khas, tiada duanya, baik dari segi: pola pemikirannya, titik tolak di mana bermula, bahasa yang digunakannya, cara penyampaiannya dan posisi (berpikir)nya, meskipun para filsuf sendiri hidup dalam konteks sejarah dengan segala suasana batin dan pemikiran yang melingkupinya.

Apa yang diberikan oleh para filsuf kepada masyarakat dunia, kalau boleh disebut demikian, selalu menarik untuk ditinjau. Bagaimana suatu persoalan dirumuskan, ditelaah, bagaimana jawaban-jawaban dan pertanyaan-pertanyaan selalu diformulasi kembali sepanjang jaman, hanya dalam rangka mencari kebenaran untuk kemaslahatan kehidupan manusia, menurut visi masing-masing. Masalah apakah kemudian suatu pemikiran disepakati sebagai keliru bahkan salah, karena telah dicapai pemikiran lain yang lebih baik, adalah masalah lain. Sejarah adalah sejarah yang tidak mungkin dihapus. Adanya sesuatu hari ini mau tak mau, suka tak suka adalah sebagai akibat dari kontak dengan masa lalu. Di sinilah dialektika terjadi, saling berdebat, saling menanggapi.

Pemikiran para filsuf, apalagi filsuf besar, adalah merupakan harta dunia yang tiada terbilang nilainya. Jelas ia memberi sumbangan bagi kemajuan berpikir berikutnya. Sumbangannya bagi sejarah peradaban dunia patut untuk disampaikan senantiasa oleh kita yang hidup di jaman yang katanya modern ini; minimal sebagai ungkapan terima kasih kita kepada mereka, yang pemikirannya langsung maupun tidak langsung mempengaruhi kehidupan kita hari ini. Untuk itulah adanya "Filsuf, Hidup dan Karyanya" ini. Kita mau mengenal filsuf dari kehidupan dan karya-karyanya. Insya Allah, bagian ini secara periodik akan membahas filsuf dengan pemikiran-pemikiran dan kehidupannya, sejak filsafat Yunani Klasik hingga filsafat yang berkembang akhir-akhir ini.

FILSAFAT HARI INI

Tiap-tiap hari kehidupan senantiasa berkembang dan mengalami perubahan. Artinya, berbagai persoalan baru muncul dan muncul lagi serta perlu dirumuskan kembali. Problem-problem "filosofis" tidak pernah habis. Sementara, penjelasan yang terdahulu tidak lagi mencukupi. Di sisi lain, filsafat bukanlah sesuatu yang statis sifatnya, melainkan dinamis. Seiring dengan pergerakan jaman, filsafat terus menawarkan dirinya untuk mengerti dan mengabarkan apa yang sesungguhnya tengah berlangsung, meskipun jawaban-jawaban "filosofis" tidak pernah sama sekali memuaskan dan tetap terbuka untuk dikritik.

Tulisan-tulisan yang termuat dalam "Filsafat Hari Ini" ini merupakan tulisan-tulisan yang kami nilai pertama-tama memiliki nilai filosofis, dalam arti memadai dalam penerapan kajian-kajian filsafat ketika memandang atau menghadapi suatu persoalan tertentu. Selain itu, ia juga aktual, bersinggungan dengan persoalan "hari ini". Dengan kedua karakter tersebut, tulisan-tulisan dalam bagian ini diharapkan mampu memberi gambaran, sekaligus mengasah ketajaman pandangan kita, bagaimana persoalan-persoalan yang ada dianalisis sebaik-baiknya dengan pendirian yang bijaksana, sehingga ditemukanlah simpul-simpul kebenaran itu.

Percah Percah Postmodernisme
... dari Redaksi di STF

Apakah postmodernisme itu? Bolehkah kita mengajukan pertanyaan ini? Bukankah pertanyaan ini menjurus pada pencarian esensi dari ‘postmodernisme’? Ini berarti berusaha mencari suatu pengertian definitif (definire = membatasi) atau suatu kesatuan representasi atas referent yang kemudian diberi nama ‘postmodernisme’? Bolehkah? Entahlah...!! Jadi, bagaimana......???

Donny Gahral Adian membedakan postmodernisme dari postmodernitas. Postmodernitas, tulisnya, merupakan istilah yang biasanya digunakan untuk menggambarkan realitas sosial masyarakat postindustri. Masyarakat postindustri adalah masyarakat yang ekonominya telah bergeser dari ekonomi manufaktur ke ekonomi jasa di mana ilmu pengetahuan memainkan peranan sentral. Postmodernitas ini ditandai dengan fenomena-fenomena : negara bangsa pecah menjadi unit-unit yang lebih kecil atau melebur ke unit yang lebih besar, partai-partai politik besar menurun dan digantikan oleh gerakan-gerakan sosial (LSM-LSM), kelas sosial terfragmentasi dan menyebar ke kelompok-kelompok kepentingan yang memfokuskan diri pada gender-etnisitas-atau orientasi seksual, serta prinsip kesenangan dan dorongan mengkonsumsi yang menggantikan etika kerja yang menekankan disiplin, kerja keras, anti kemalasan, dan panggilan spiritual (kerja = ibadah). Sementara itu postmodernisme dimengertinya sebagai wacana pemikiran baru yang menggantikan modernisme. Postmodernisme meluluhlantakkan konsep-konsep modernisme seperti adanya subyek yang sadar diri dan otonom, adanya representasi istimewa tentang dunia, dan sejarah linier (Adian, 2001: 95-97).

Senada dengan Gahral Adian, Anthony Giddens ternyata juga membedakan postmodernisme (postmodernism) dari postmodernitas (postmodernity). Postmodernisme, jika sungguh-sungguh ada, menurut Giddens sebaiknya diartikan sebagai gaya atau gerakan di dalam sastra, seni lukis, seni plastik, dan arsitektur. Gerakan ini memperhatikan aspek-aspek aesthetic reflection dari modernitas. Sementara itu postmodernitas dimengertinya sebagai tatanan sosial baru yang berbeda dengan institusi-institusi modernitas. Namun, alih-alih menggunakan istilah postmodernitas, Giddens lebih suka menggunakan istilah “modernitas yang teradikalisasi” (radicalized modernity) untuk menggambarkan dunia kita yang mengalami perubahan hebat dan sedang melaju kencang bak Juggernaut yang tak bisa lagi dikendalikan, suatu dunia yang mrucut (runaway world). Alih-alih setuju dengan postmodernitas yang mewartakan berakhirnya epistemologi, Giddens lebih percaya bahwa apa yang terjadi sekarang ini adalah “modernitas yang sadar diri” (Giddens, 1990: 45-53, 150-173).

Sementara itu, Bambang Sugiharto mengatakan bahwa “postmodernisme” memang merupakan istilah yang kontroversial sekaligus ambigu. Postmodernisme itu bagaikan rimba belantara yang dihuni oleh aneka satwa....suatu istilah yang “memayungi” segala aliran pemikiran yang satu sama lain seringkali tak persis saling berkaitan. Namun kiranya cukup jelas, katanya, bahwa dalam postmodernisme gagasan-gagasan seperti “filsafat”, “rasionalitas”, dan “epistemologi” dipertanyakan kembali secara radikal. Problem postmodernisme menurut dia adalah problem keterbatasan bahasa, khususnya keterbatasan fungsi deskriptif bahasa. Dia mengusulkan agar bahasa dilihat fungsi transformatifnya. Muncullah metafor—mula-mula diperkenalkan oleh Ricoeur—yang dapat menjadi titik terang untuk melihat persoalan-persoalan yang diajukan oleh postmodernisme. Metafor tidak menunjukkan suatu kebenaran absolut, melainkan suatu “kebenaran yang bertegangan” (tensional truth) (Bambang Sugiharto, 1996: 16-18).
Penulis yang lain lagi, sang penantang postmodernisme, Terry Eagleton, mengungkapkan dalam The Illusions of Postmodernism bahwa biasanya memang dibedakan antara postmodernisme dan postmodernitas. Pembedaan ini cukup berguna baginya. Akan tetapi, dia sendiri lebih senang menggunakan istilah postmodernisme, sebab istilah ini dapat mencakup keduanya. Postmodernitas biasanya dimengerti sebagai gaya berpikir yang curiga terhadap pengertian klasik tentang kebenaran-rasionalitas-identitas-obyektivitas, curiga terhadap ide kemajuan universal atau emansipasi, curiga akan satu kerangka kerja, grand narrative atau dasar-dasar terdalam dalam penjelasan. Berlawanan dengan norma-norma Pencerahan ini, postmodernitas melihat dunia sebagai yang kontigen, tak berdasar, tak seragam, tak stabil, tak dapat ditentukan, seperangkat kebudayaan yang plural atau penafsiran yang melahirkan skeptisisme terhadap obyektivitas kebenaran, sejarah dan norma-norma, kodrat yang terberikan serta koherensi identitas. Sementara itu postmodernisme dimengerti sebagai gaya kebudayaan yang merefleksikan sesuatu dalam perubahan jaman ini ke dalam suatu seni yang diwarnai oleh ketakmendalaman, ketakterpusatan, ketakberdasaran; seni yang self-reflexive, penuh permainan, ekletik, serta pluralistik. Seni semacam ini mengaburkan batas antara budaya ‘tinggi’ dan budaya ‘pop’, antara seni dan hidup harian (Therry Eagleton, 1996: vii-viii).

Sekarang bagaimana dengan Anda...., apa yang akan Anda katakan tentang postmodernisme? Silakan membaca artikel-artikel dalam edisi Percah-Percah Postmodernisme ini. Anda akan bertemu dengan Lyotard, Vattimo, Bauman, Harvey, Deleuze, dan Ricoeur. Pasti Anda akan terbantu untuk dapat mengatakan lebih banyak lagi tentang postmodernisme. Istilah postmodernisme dipilih di sini karena kedengarannya lebih keren. Itu saja. Selamat membaca....