Gresik United In Future, Good Suggestion for You

15 Juli 2008:
Puri Saren, Ubud, puri Termegah di Bali, dalam rangka upacara PELEBON/ngaben bagi bangsawan Ubud yang terkenal, Tjokorda Gede Agung Suyasa, dan anggota keluarga lainnya.

Foto: Made Wijaya

Dua buah Lembu sedang dipersiapkan di jaba puri.


Jam 10 pagi saya tiba di puri setelah menempuh perjalanan panjang dari parker VIP B, dengan melewati barisan penggarap bade yang memakai baju warna ungu yang bergerombol di bawah lembu dan bade.

Saya berjalan tergopoh-gopoh melewati beberapa halaman puri dan sampai di depan tempat panganan yang penuh oleh orang-orang puri (dari seluruh pelosok Bali) dan melewati bangunan-bangunan puri yang dipadati oleh para raja, saya juga berpapasan dengan Poppy Darsono yang pura-pura sebagai putri almarhum Sunan Solo (Pakubuwono XII), saya juga berpapasan dengan Warwick Purser, Linda Garland, yang mengenakan kebaya renda emas dan songket merah-anggur gelap hingga Nampak kecoklatan, ditambah perhiasan yang sangat gemerlap (bergaya Majapahit kuno) dan stocking ungu muda, serta anting-anting bermotif ying dan yang. Saya juga melihat barisan wartawan, penata rias serta Naga Banda yang ditempatkan di ancak saji. Ada juga Jero Asri di salah satu susut puri. Dia sedang mengamati putrinya yang sedang mempersiapkan diri untuk upacara besar ini. Seorang teman lama saya, sedang mengenakan cilak mata.

Saat datang ke Ubud dua minggu yang lalu, sepulang saya dari Solo, saya diberitahu mengenai perbedaan antara puri-puri di Bali dan Jawa saat pelaksanaan upacara. Puri-puri di Jawa besar dan tenang: dimana-mana ada pengawal dan anggota keluarga puri, dan membicarakan intrik yang di setiap sudut puri. Upacara dilaksanakan sesuai dengan kegiatan yang ada di mana ruang utama berada paling di dua sisi paling luar dan ruang tidur utama dari para anggota keluarga keraton berada di antaranya. Di Ubud, para abdi dalem, wisatawan, para pandita dan bangsawan bercampur baur menjadi satu. Puri-puri di Bali, khususnya Puri Saren, selalu dimeriahkan dengan kegiatan-kegiatan upacara/social/logistikal (persembahan, dll) sepanjang minggu selama upacara besar berlangsung. Jika seharusnya upacara pembakaran mayat jauh dari nuansa hiruk pikuk perayaan, suasana yang tertangkap justru sangat rileks dan penuh suka cita, ditambah dengan senda gurau; berkebalikan dengan ritual yang ada di keraton-keraton jawa yang nuansanya sangat suram dan sendu.

Jero Asri dengan putrinya, Tjok Sri Maya Kerthyasa


Hari ini Jero Asri dikelilingi oleh teman-temannya dari Australia, Barone Gilll Marais, pengarah buku ‘Sex in the Puri, sebuah serial film tentang kehidupan puri di Bali. Gill sedang bercakap-cakap dengan anak laki-laki Jero Asri. Setelah makan siang dan berada di dalam istana selama satu dua jam di puri kami akhirnya keluar untuk upacara agung ini: Upacara Pelebon Agung Puri Ubud.

Saat melangkah keluar dari atmosfir puri yang jernih ke atmosfir perayaan tahun baru di Taman Luna menuju ke jalan raya ditutup, yang dipenuhi oleh pasukan pelaksana upacara pemakaman yang semuanya mengenakan pakaian berwarna ungu cerah, seolah “stepping on to a giant tab of acid” (mengutip Bill Dawson).

Mereka yang dari kalangan terhormat mengamati pemandangan yang luar biasa itu dari salah satu sudut puri: ada menteri Pariwisata, Jero Wacik; gubernur yang baru terpilih, Mayor Jenderal Made Mangku Pastika, Sukmawati Soekarno Putri (lagi!), bekas menteri Moerdiono (orang yang jalan hidupnya dapat dijadikan sebagai inspirasi pembuatan serial TV baru bergaya The Soprano); dan ada juga Gung Bagus dari Puri Peliatan.

Tjokorda Raka Kerthyasa beserta anggota keluarga lainya pada pagi hari sebelum upacara di mulai.

Akhirnya, setelah dua jam berada dalam keriuhan di luar puri, gamelan mulai ditabuh, gamelan beleganjur mulai bergema, dan Tjok raka mengibarkan bendera merah. Ini artinya kami akan segera berangkat.

“Ini vulgar,” keluh Nyonya Carole karena para pecalang mulai menebang pohon agar lebih leluasa. Para penonton bergrombolan di bangunan yang ada di sepanjang jalan. Begitu juga atap-atap rumah juga penuh dengan orang.

Setelah berjalan 200 meter, rombongan menabrak dua orang Cina Jakarta dan 3 orang Jerman yang lagi mabuk dekat ATM yang ada di pinggir jalan.

Saat para sesepuh puri yang panik, mau keluar dari kerumunan, saya berlarian ke arah mall―“Lari gendut, lari!”, teriak sekelompok orang―saat yang tepat samapai pada rombongan bade pertama (yang membawa layon bibi Tjok Suyasa) saat memutar ke atas menuju setra.


Beleganjur semakin menjadi-jadi, penabuh kendang menari-nari di jalan, mereka berada pada suasana hatinya (mood). “Ubud is a Mood,” kata Leonard Leuras dari salah satu ruang pijat. Para anggota keluarga kerajaan ini, yang sangat dicintai oleh rakyatnya, diantar dalam sebuah kemeriahan.


BERANGKAT..........!!! menuju setra (dari kiri ke kanan); Tjok Kerthyasa, Tjok Putra Sukawati dan Tjok Alit Dharma Putra diatas bade diikuti ribuan masyarakat Bali dan Mancanegara.

***