
Desa
Apa arti, “desa mawacara, Negara mawa tata?”
Artinya, jika desa membuat gara-gara, negara jangan ikut campur,” kata I Wayan Nigtig Tangkah.
I Wayan adalah seoang ‘pahlawan’ di desanya. Dadanya sudah tipis akibat penyakit TBC, disamping karena keseringan menepuk dada.
Dua hari yang lalu dia memimpin penduduk desa untuk membongkar bak air yang dibangun oleh dinas PU di desanya. Bak air tersebut hendak dimanfaatkan untuk kepentingan desa-desa yang lain disekitarnya terutama yang sumber airnya jarang.
“Apa maunya pemerintah itu, mereka mau mengambil mata air milik kita. Dari dulu mata air tersebut ada di desa kita.”
Jangankan masalah UUD 1945 yang secara jelas menyatakan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam adalah milik Negara, bukan milik desa, konsep hidup rukun bertetangga pun di tidak begitu faham.
Sudah jelas-jelas mata air itu berada di wilayah desa tetangga dan cukup untuk semua, dan tidak habis untuk dipakai bersama, tetap saja Wayan tidak mau mengetri.
Masalahnya bukan Wayan saja yang tidak mengerti. Buktinya begitu diajak membongkar bak air tersebut, semua warga turut serta. Yang tidak ikut, mereka menabuh gamelan untuk memberi semangat.
Sepertinya perilaku desa tidak jauh-jauh dari perilaku warganya.
Sampai sekarang memang sulit mencari keluarga di Bali yang bisa hidup rukun pada tempat yang sama. Kebanyakan dari mereka ribut, saling sindir, saling bersilang kata-kata gasar, bahkan dengan memakai ilmu hitam.
Jika di lingkungan keluarga saja sudah tidka akur apalgi dengan tetangga. Jika tetangga berhasil, kebanyakan dari orang Bali akan mengernyitkan alis, dan berusaha mencari jalan agar tetangganya tersebut cepat jatuh.
Semestinya semakin sukses tetangga, kita mesti bersyukur, karena akan lebih mudah jika kita perlu bantuan mereka.
Kenyataannya adalahjika tetangganya punya mobil baru, maka mereka serempak memusuhinya. Minimal mereka akan menuduh tetangganya tersebut sebagai orang yang OKB, atau memakai ilmu hitam atau bahkan korupsi. Akibatnya, orang bersangkutan akan dimusuhi dan nanti kalau ngaben, bade (tempat mayatnya) akan di obrak-abrik.
Karena banyak sekali ornag Bali yang memiliki perilaku seperti ini maka otomatis banyak desa yang berperilaku seperti ini.
Akibatnya mereka iri dengan desa tetangganya. Jika desa tetangga mengadakan upacara Ngenteg Linggih yang menghabiskan biaya sampai 500 juta, maka mereka akan berusaha mencari alasan agar bisa mengadakan upacara, misalnya dengan merenovasi atau membongkar pura. Semua berfikir keras supaya nanti upacara (karya)nya bisa menghabiskan uang 1 milyar. Setelah habis 1 milyar, semuanya tersenyum senang, menepuk dada, merasa diri lebih sukses disbanding desa tetangga, merasa kaplingnya di surga lebih luas karenamenghabiskan uang untuk upacara lebih banyak.
Masalah uangnya berasal dari bank ― sehingga warga harus bekerja membanting tulang untuk membayar cicilan ― masalahnya setelah karya banyak warga yang kena PHK karena sering libur karena ikut membantu persiapan upacara (ngayah); masalah dari mulai persiapan upacara para penggarap sudah saling berdebat dan juga panitya karya yang saling ungkit masalah penggunaan upacara, tidak ada yang memperdulikannya.
Yang penting hanya satu hal, desa mereka bisa lebih hebat dari desa tetangga. Meskipun bangkrut, yang penting sombong, begitu somboyannya.
Jadi hanya baru sampai di sana pemikiran orang Bali.
“Sekarang sudah abad 21. Sebentar lagi Asia Free Trade berlaku, artinya bahwa orang asing bisa menjual barang apa saja disini. Kenapa pikiranmu masih sempit saja,” I Made Bali Jani memberi nasehat.
“Aku lahir di nisi, besar di sini, sekolah di sini, drop out di sini, besok lusa aku mati dn di kubur di sini. Aku tidak ada urusan dengan abad 21 dan Asia,” sahut Wayan sambil menepuk dada.

