Gresik United In Future, Good Suggestion for You



Ilmiah

Saat ini masyarakat sedang demam dengan sesuatu yang bersifat ilmiah. Jika segala sesuatunya didasarkan atas ilmiah, maka dianggap sebagai suatu kebenaran, dan tidak boleh dibantah. Jika sudah berdasarkan ilmiah, berarti seseorang dianggap pandai dan tidak boleh diatasi.

“Oleh karena itu, jika ingin menjadi pemimpin atau tokoh politik, tidak cukup hanya bermodalkan kematangan dan kekayaan, disamping itu harus juga bermodalkan ‘ilmiah’ supaya dianggap pandai dan bijaksana,” kata I Made Kucing dalam Karung.

Semua yang hadir tampak ceria. Maklumlah suasananya lagi bagus, banyak ada upacara belakangan ini, jadi makin banyak alasan untuk minum dan berjudi. Disamping itu juga ada pentas politik juga sudah dekat, yakni Pilkadal (Pemilihan Kepala Kadal), jadi akan makin banyak ada setoran dari para kadal.

“Cara yang paling mudah biar dikira ilmiah adalah dengan memamerkan gelar sarjana ynag dimiliki. Perguruan tinggi dan universitas adalah institusi ilmiah. JIka sudah memiliki gelar sarjana maka akan dianggap sebagai mahluk ilmiah,” lanjut Made.

Oleh karena itulah para calon Kepala Kadal memasang gelar sarjana di depan dan di belakang namanya. Sekalipun kumisnya sudah tebal, senyumnya manis, destarnya menonjol, tetap saja mereka belum percaya diri jika belum memasang gelarnya. Ada yang mengisi gelar S3, ada yang S-2, kadang-kadang ada yang sampai empat gelar dipasang menghiasi namanya.

“Wah, sampai empat gelarnya, alangkah giatnya dia belajar, pasti siang malam kerjanya hanya kuliah saja. Jadi kalau siang malam dia belajar, kapan dia akan sempat mengurus rakyat,” kata Made lagi.

“Kamu terlalu serius, Made. Kalau seseorang memiliki banyak gelar, belum tentu karena dia benar-benar belajar. Sekarang doktor saja ada yang kedapatan menjiplak, apalagi sekelas S-1 dan S-2. Apalagi sekarang banyak universitas yang tidak jelas. Yang penting rajin bayar, jangankan S-1 dan S-2, S-100 pun kamu bisa mendapatkannya. Gelar bisa dirapel kok,” I Ketut Politik Aji Ugig berkomentar.

Gelar satu lusin belum juga cukup. Supaya makin dianggap pintar, maka kamu perlu juga rajin berpidato dengan menggunakan istilah-istilah yang seram.Makanya para calon kepala kadal senang sekali dengan pemakaian istilah-istilah seperti kesetaraan gender, reformasi birokrasi, clean governance, good governance, community based….bla..bla…Rakyat yang tidak tamat SD akan langsung sakit kepala mendengar pidato seperti itu. Tetapi rakyat yang tamatan universitas akan senyum-senyum saja mendengar pidato yang seram itu tetapi tidak ada isinya.

Jika gelar sudah punya, pidato sudah seram, maka perlu juga mengadakan survai. Tujuannya agar tahu apakah rakyat setuju dengan kebijakan yang diterapkan. Jika dekat Pilkadal, semua mengadakan survai supaya diketahui seberapa besar nantinya mendapat dukungan dari masyarakat.

“Sialnya, yang mengadakan survai adalah temannya sendiri dan yang disurvai adalah pendukungnya sendiri pula. Akibatnya semua calon menjadi terlalu percaya sendiri karena hasilnya semua bagus-bagus,” kata Ketut.

Jika gelar didapat dengan cara membeli, jika konsep pidato sebenarnya tidak ada apa-apanya, jika survainya bohong-bohongan, tentu hasilnya juga tidak ada apa-apanya.

----------------------------------------------------------

Diambil dari kolom ‘Bungklang Bungkling’, ‘Ilmiah’, di harian Bali Post, Minggu, 7 Maret 2010, oleh I Wayan Juniartha. Diterjemahkan oleh Putu Semiada