Diambil dari kolom ‘Bungklang Bungkling’, ‘Partai Gerang’, di harian Bali Post, Minggu, 19 April, 2009,
oleh I Wayan Juniartha
Diterjemahkan oleh Putu Semiada
Rasanya saya sudah tidak perlu menulis ‘Bungklang-Bungkling lagi. Banyak sekali kejadian yang lucu dan ganjil. Tanpa perlu baca apa-apa, anda sudah bisa tertawa.
Ada orang yang mengembalikan gamelannya karena malu tidak bisa memberikan suara yang signifikan kepada seorang caleg. Ada caleg, karena perolehan suaranya sedikit, karpet, gedeg, tv yang sudah disumbangkannya diminta lagi. Artinya kalau sudah kalah, tidak perlu gengsi lagi, menelan air liur sendiri yang sudah dikeluarkan. Kalau sudah kalah tidak perlu lagi sembahyang ke pura. Kalau para dewa sudah tidak lagi memberikan berkah, maka manusia akan acuh tak acuh; seperti itulah pola pikir manusia saat ini.
Jelas sekali terlihat aroma politik uangnya, lengkap dengan kebaya politik, sembahyang politik, saling sikut politik. Jelas sekali semua memakai uang untuk membeli suara, tapi anehnya polisi maupun Panwaslu (Panitia Pengawas Pemilu) adem-adem (tenang-tenang) saja. Mereka kerjanya Cuma (hanya) duduk-duduk saja menunggu laporan. Tidak berani (menjemput)jemput bola (karena memang bukan pemain bola). Apalagi bolanya memang panas. Kalau panas memang tidak ada yang berani mengambil, tapi kalau sudah dingin, apalagi ada uangnya, pasti semua berebutan.
Tokoh-tokoh hebat yang dulu sering muncul dikoran sambil menepuk dada bicara mau bikin (membuat) ini itu, sekarang setelah pemilu semuanya diam seribu bahasa. Sepertinya, kalau tidak terpilih menjadi anggota dewan, maka mereka tidak akan jadi mengabdi.
“Kamu ini memang seperti penjual obat. Jaman (zaman) sekarang, kamu kira siapa yang memang benar-benar mau mengabdi, mau melayani rakyat dan beryadnya. Kalau memang ingin mengabdi kenapa tidak menjadi sukarelawan tukang sapu di jalan, atau sukarelawan di panti jompo misalnya. Atau bisa juga memberi beasiswa kepada anak-anak tidak mampu?” Kata I Made Geleh Brebeh.
“Sebab kalau menjadi sukarelawan tidak dapat duit (uang). Tapi kalau menjadi anggota dewan, duitnya (uangnya) melimpah,” kata I Made lagi.
Artinya bahwa kebanyakan memang jadi caleg karena mengejar uang.
“Yang paling lucu adalah partai-partai gurem yang sedikit mendapat suara, dipastikan mereka tidak bisa ikut pemilu lagi. Kalau mereka ingin ikut lagi, mereka mesti ganti nama dulu,” kata I Ketut Patut Aud.
Pasti para pimpinan partai pusing tujuh keliling mencari nama baru, tanpa harus menghilangkan nama terdahulu, dan pendukungnya tetap ingat.
“Kalau begitu, PNI Marhenisme menjadi PNI Marhenisme Perjuangan, PNI Marhenisme Pembaharuan, dan PNI Marhenisme Jilid 2, atau nama yang terbaik mungkin Shri Shri PNI Marhenisme,” kata I Made sambil tertawa.
Barisan Nasional menjadi Partai Baris-Berbaris Nasional, Partai Republikan menjadi Partai Republiku, PNBK Indonesia menjadi PNBK Indo (sehingga mendapat banyak dukungan dari bulé- bulé), Partai Keadilan menjadi Partai Keadilan Bersungguh-Sungguh, Partai Kedaulatan menjadi Partai Kedaulatan Rakyat. Lalu bagaimana dengan PIS (Partai Indonesia Sejahtera) dan Partai Buruh? Nama mereka menjadi seperti apa?” tanya I Ketut.
“Kalau PIS dan Partai Buruh, sebaiknya dibubarkan saja. PIS sedikit sekali mendapat suara karena memang tidak punya ‘PIS’ (uang). Kalau Partai Buruh, seumur-umur tidak bakalan menang, karena di sini tidak ada yang mau jadi buruh, semua ingin menjadi pegawai negeri.”
Masalahnya rakyat sekarang sudah melek, dan jeli. Meskipun sudah berganti nama, semuanya tahu kalau itu bohong-bohongan. Sekali partai gurem tetap partai gurem.
oleh I Wayan Juniartha
Diterjemahkan oleh Putu Semiada
Partai Gurem
Rasanya saya sudah tidak perlu menulis ‘Bungklang-Bungkling lagi. Banyak sekali kejadian yang lucu dan ganjil. Tanpa perlu baca apa-apa, anda sudah bisa tertawa.
Ada orang yang mengembalikan gamelannya karena malu tidak bisa memberikan suara yang signifikan kepada seorang caleg. Ada caleg, karena perolehan suaranya sedikit, karpet, gedeg, tv yang sudah disumbangkannya diminta lagi. Artinya kalau sudah kalah, tidak perlu gengsi lagi, menelan air liur sendiri yang sudah dikeluarkan. Kalau sudah kalah tidak perlu lagi sembahyang ke pura. Kalau para dewa sudah tidak lagi memberikan berkah, maka manusia akan acuh tak acuh; seperti itulah pola pikir manusia saat ini.
Jelas sekali terlihat aroma politik uangnya, lengkap dengan kebaya politik, sembahyang politik, saling sikut politik. Jelas sekali semua memakai uang untuk membeli suara, tapi anehnya polisi maupun Panwaslu (Panitia Pengawas Pemilu) adem-adem (tenang-tenang) saja. Mereka kerjanya Cuma (hanya) duduk-duduk saja menunggu laporan. Tidak berani (menjemput)jemput bola (karena memang bukan pemain bola). Apalagi bolanya memang panas. Kalau panas memang tidak ada yang berani mengambil, tapi kalau sudah dingin, apalagi ada uangnya, pasti semua berebutan.
Tokoh-tokoh hebat yang dulu sering muncul dikoran sambil menepuk dada bicara mau bikin (membuat) ini itu, sekarang setelah pemilu semuanya diam seribu bahasa. Sepertinya, kalau tidak terpilih menjadi anggota dewan, maka mereka tidak akan jadi mengabdi.
“Kamu ini memang seperti penjual obat. Jaman (zaman) sekarang, kamu kira siapa yang memang benar-benar mau mengabdi, mau melayani rakyat dan beryadnya. Kalau memang ingin mengabdi kenapa tidak menjadi sukarelawan tukang sapu di jalan, atau sukarelawan di panti jompo misalnya. Atau bisa juga memberi beasiswa kepada anak-anak tidak mampu?” Kata I Made Geleh Brebeh.
“Sebab kalau menjadi sukarelawan tidak dapat duit (uang). Tapi kalau menjadi anggota dewan, duitnya (uangnya) melimpah,” kata I Made lagi.
Artinya bahwa kebanyakan memang jadi caleg karena mengejar uang.
“Yang paling lucu adalah partai-partai gurem yang sedikit mendapat suara, dipastikan mereka tidak bisa ikut pemilu lagi. Kalau mereka ingin ikut lagi, mereka mesti ganti nama dulu,” kata I Ketut Patut Aud.
Pasti para pimpinan partai pusing tujuh keliling mencari nama baru, tanpa harus menghilangkan nama terdahulu, dan pendukungnya tetap ingat.
“Kalau begitu, PNI Marhenisme menjadi PNI Marhenisme Perjuangan, PNI Marhenisme Pembaharuan, dan PNI Marhenisme Jilid 2, atau nama yang terbaik mungkin Shri Shri PNI Marhenisme,” kata I Made sambil tertawa.
Barisan Nasional menjadi Partai Baris-Berbaris Nasional, Partai Republikan menjadi Partai Republiku, PNBK Indonesia menjadi PNBK Indo (sehingga mendapat banyak dukungan dari bulé- bulé), Partai Keadilan menjadi Partai Keadilan Bersungguh-Sungguh, Partai Kedaulatan menjadi Partai Kedaulatan Rakyat. Lalu bagaimana dengan PIS (Partai Indonesia Sejahtera) dan Partai Buruh? Nama mereka menjadi seperti apa?” tanya I Ketut.
“Kalau PIS dan Partai Buruh, sebaiknya dibubarkan saja. PIS sedikit sekali mendapat suara karena memang tidak punya ‘PIS’ (uang). Kalau Partai Buruh, seumur-umur tidak bakalan menang, karena di sini tidak ada yang mau jadi buruh, semua ingin menjadi pegawai negeri.”
Masalahnya rakyat sekarang sudah melek, dan jeli. Meskipun sudah berganti nama, semuanya tahu kalau itu bohong-bohongan. Sekali partai gurem tetap partai gurem.

